Kamis, 23 Februari 2012

Teori Moral


PEMIKIRAN SOSIAL DAN TINDAKAN SOSIAL

Dari Hasil Eksperimen Milgram didapat konsistensi antara pertimbangan moral dengan perilaku. Berdasarkan data yang cukup besar jumlahnya yang menunjukkan adanya tingkatan konsisten yang tinggi (blasi, 1980), maka tidaklah dapat disimpulkan bahwa pertimbangan moral dan perilaku , pada umumnya tercermin sebagai proses yang tiada kaitannya. Tetapi berdasarkan fakta menunjukkan tingkat konsistensi  yang sedang-sedang saja tidak dapat disimpulkan bahwa pertimbangan moral  memiliki hubungan kausal terhadap perilaku.
Strategi penelitian mengestimasi hubungan antara pertimbangan moral dengan perilaku yang konsisten atau yang tidak konsisten saja bersifat terbatas. Keterbatasan itu terlukis  dalam eksperimen Milgram, bahwa setiap kondisi eksperimen dapat dipandang mencerminkan adanya hubungan yang konsisten maupun yang tidak konsisten antara pertimbangan moral dengan perilaku, tergantung dari hubungan mana yang diberikan tekanan perhatian.
Untuk memahami perilaku para subjek yang terus memberikan getaran listrik setiap kondisi eksperimen yang manapun, hendaknya diperhatikan kedua faktor yang saling bertautan (1) landasan bagi konsistensi antara perilaku dengan konsep keorganisasian (2) landasan bagi pola yang tidak konsisten antara perilakunya dengan pertimbangan moralnya.
Situasi perilaku yang sering digunakan termasuk situasi perilaku yang digunakan Hartshome dan May (Turiel,1978) yang bersifat multidimensional. Dalam eksperimen Milgram misalnya, pertautan antara ranah itu ditempatkan dalam pertautan-pertautan pertentangan. Analisis yang dilakukan hendaknya mencakup pertimbangan dalam ranah dari subjek yang bersangkutan mengenai masing-masing komponen maupun koordinasi dari ranah-ranah itu dalam konteks situasional tersebut.
Validitas pendekatan ini didukung oleh studi yang dilakukan Smetana (1981b, 1982) yang disinggung mengenai pengambilan keputusan tentang pengguguran kandungan.bahwa pengguguran kandungan suatu masalah yang multidimensional dan ambigu, tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi orientasi seseorang mengenai ranah serta kriteria konseptualnya dalam masalah pengguguran kandungan itu. Tujuan lain dari penelitian ini ialah untuk menguji pertautan antara pertimbangan dengan perilaku.
Ada empat corakpandangan yang berbeda berkaitan dengan aspek-aspek moral dan nonmoral (batas kekuasaan pribadi): pandangan pertama menganggap masalah pengangguran kandungan sebagai masalah pilihan pribadi yang bersifat nonmoral. Pandangan kedua menyatakan bahwa masalah pengangguran kandungan itu lebih merupakan masalah hidup dan mati, Pandangan ketiga melihat adanya pertentangan antara pandangan yang menganggapnya sebagai masalah kebijakan moral dan yang tidak menganggapnya sebagai masalah kebijakan moral. Pandangan keempat menunjukkan adanya koordinasi antara aspek moral dengan aspek pribadi.
Para responden yang menyetujui bahwa masalah yang tidak termasuk masalah moral, secara konsisten menempatkan item-item mengenai aborsi itu dalam kategori pribadi sedangkan para  responden yang memandangnya sebagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan manusia ataupun mereka yang menggabungkan kedua ranah itu lebih cenderung untuk menempatkan item pengguguran kandungan dalam kategori moral (salah, walaupun tidak ada peraturannya). Mereka yangb tergolong ke dalam kelompok yang dihinggapi pertentangan batin atau yang menggabungkan ranah pribadi dan ranah moral itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar